OJK Berikan Restu Fintech Berkolaborasi Dengan BPR

Pengembangan Fintech semakin menjadi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan restu bagi fintech peer to peer lending masuk ke dalam bisnis bank perkreditan rakyat (BPR). Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyatakan fintech memasuki BPR bisa berperan sebagai pemberi pinjaman (lender).

“BPR silahkan kalau mau masuk fintech nanti bersama-sama. Bila BPR tidak mengerti mengenai mekanisme produk lending dengan elektronik bersama fintech, bank bisa berkonsultasi langsung dengan OJK. Prinsipnya kerja sama ini boleh nanti pengawasannya market conduct asosiasi,” ujar Wimboh beberapa waktu lalu.

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) melihat ada peluang kerja sama antara pemain fintech peer to peer lending dengan bank perkreditan rakyat (BPR). Bahkan, Ketua Umum AFPI Adrian Gunadi bilang asosiasi sudah bekerja sama dengan Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat (Perbarindo) terkait kolaborasi proyek percontohan.

“Pemain fintech peer to peer lending yang bisa jalin kerja sama dengan BPR tergantung segmen produk yang mereka tawarkan. Potensi kolaborasi yang paling banyak dari fintech yang tawarkan produk pinjaman konsumtif dan mikro,” jelas Adrian.

Ia bilang kolaborasi antara dua industri ini bisa berbentuk channeling sehingga BPR berperan sebagai pemberi pinjaman. Begitu pun dengan penerapan teknologi fintech bagi BPR seperti penilaian kredit.

Sementara itu, pemain fintech peer to peer lending PT Kredit Pintar Indonesia menilai terdapat beberapa potensi kerja sama dengan bank perkreditan rakyat. Chief Executive Officer Kredit Pintar Wisely Wijaya bilang ada tiga ranah kolaborasi yang bisa dilakukan oleh dua industri ini.

“Pertama channeling bagi mereka, kedua technology sharing, dan white listing nasabah mereka. Lewat kerja fintech bisa merekomendasikan calon nasabah mana yang paling cocok diberikan pinjaman dengan jumlah tertentu. Tiga hal ini lah potensi kerja sama yang bisa dilakukan,” ujar Wisely beberapa waktu lalu.

9 Perusahaan Ajukan Izin Equity Crowdfunding di OJK

Bentuk Fintech semakin berkembang. Saat ini muncul equity crowdfunding. Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan sudah ada 9 perusahaan yang mengajukan izin sebagai penyelenggara fasilitas urun dana berbasis saham atau equity crowdfunding (ECF) kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Direktur Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko BEI Fithri Hadi menjelaskan bahwa posisi BEI dalam kapasitasnya membantu OJK dalam menilai perusahaan-perusahaan yang mengajukan diri sebagai platform equity crowdfunding (ECF) tersebut.

“Ada 9 perusahaan yang sudah masuk ke OJK dan kami bantu OJK untuk menilai, itu tinggal melihat proses berikutnya akan live mulai kapan,” kata Fithri Hadi, di BEI, Sudirman, Jakarta.

Nantinya, kata dia, platform ini akan berdiri sendiri di luar fasilitas perdagangan di BEI. ECF juga akan memiliki fasilitas pasar perdana maupun pasar sekunder sendiri.

Namun, bila kinerja perusahaan yang sudah mengajukan platform tersebut memiliki performa yang bagus, bisa berpeluang naik kelas menjadi emiten melalui papan akselerasi, yakni papan yang khusus disiapkan bursa bagi perusahaan rintisan.

Pasalnya, BEI sudah mengetahui daftar perusahaan yang menjadi penyelenggara ECF dan berpotensi melakukan penawaran umum perdana saham atau IPO (initial public offering).

“Kalau sudah layak perusahaan tersebut sudah bisa masuk ke pasar yang lebih tinggi lagi, bisa masuk ke pasar bursa [BEI] melalui papan pengembangan,” kata Fithri Hadi.

Umumnya, di negara-negara lain, ECF bekerjasama dengan bursa saham di negara tersebut. Tetapi sejauh ini, belum ada keputusan lebih lanjut apakah ECF akan bermitra dengan BEI karena masih dalam tahap pengembangan.

Seperti diketahui, OJK memberikan ruang bagi perusahaan kecil dengan jumlah modal kurang dari Rp 30 miliar untuk melakukan penghimpunan dana dari publik di luar pasar modal. Aturan ini tertuang dalam POJK Nomor 37/POJK.04/2018 yang diteken Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso pada 31 Desember 2018.

Tak jauh berbeda dengan penawaran umum di pasar modal, namun penawaran saham dengan mekanisme Layanan Urun Dana ini diselenggarakan oleh penyelenggara equity crowfunding, berbentuk perseroan terbatas atau koperasi dengan modal minimal dan modal disetor paling sedikit sebesar Rp 2,5 miliar.

Penyelenggara ini nantinya bisa bertindak sebagai penjamin emisi efek, perantara perdagangan efek serta manajer investasi.

Sementara, untuk perusahaan yang akan menawarkan saham dengan skema ini hanya boleh memiliki jumlah modal disetor maksimal Rp 30 miliar dengan jumlah kekayaan minimal sebesar Rp 10 miliar. Adapun total dana yang boleh diperoleh dari penawaran saham lewat skema Urun Dana ini paling banyak sebesar Rp 10 miliar.

Penghimpunan dana dapat dilakukan dengan jangka waktu paling lama 12 bulan, sedangkan masa penawaran maksimal hanya 60 hari.

Fintech Training 2020

Fintech Training in Afghanistan, Fintech Training in Albania, Fintech Training in Algeria, Fintech Training in Andorra, Fintech Training in Angola, Fintech Training in Antigua and Barbuda, Fintech Training in Argentina, Fintech Training in Armenia, Fintech Training in Australia, Fintech Training in Austria, Fintech Training in Azerbaijan, Fintech Training in Bahamas, Fintech Training in Bahrain, Fintech Training in Bangladesh, Fintech Training in Barbados, Fintech Training in Belarus, Fintech Training in Belgium, Fintech Training in Belize, Fintech Training in Benin, Fintech Training in Bhutan, Fintech Training in Bolivia, Fintech Training in Bosnia and Herzegovina, Fintech Training in Botswana, Fintech Training in Brazil, Fintech Training in Brunei, Fintech Training in Bulgaria, Fintech Training in Burkina Faso, Fintech Training in Burundi, Fintech Training in Cabo Verde, Fintech Training in Cambodia, Fintech Training in Cameroon, Fintech Training in Canada, Fintech Training in Central African Republic (CAR), Fintech Training in Chad, Fintech Training in Chile, Fintech Training in China, Fintech Training in Colombia, Fintech Training in Comoros, Fintech Training in Congo Democratic Republic of the, Fintech Training in Congo, Fintech Training in Costa Rica, Fintech Training in Cote d’Ivoire, Fintech Training in Croatia, Fintech Training in Cuba, Fintech Training in Cyprus, Fintech Training in Czechia, Fintech Training in Denmark, Fintech Training in Djibouti, Fintech Training in Dominica, Fintech Training in Dominican Republic, Fintech Training in Ecuador, Fintech Training in Egypt, Fintech Training in El Salvador, Fintech Training in Equatorial Guinea, Fintech Training in Eritrea, Fintech Training in Estonia, Fintech Training in Eswatini, Fintech Training in Ethiopia, Fintech Training in Fiji, Fintech Training in Finland, Fintech Training in France, Fintech Training in Gabon, Fintech Training in Gambia, Fintech Training in Georgia, Fintech Training in Germany, Fintech Training in Ghana, Fintech Training in Greece, Fintech Training in Grenada, Fintech Training in Guatemala, Fintech Training in Guinea, Fintech Training in Guinea-Bissau, Fintech Training in Guyana, Fintech Training in Haiti, Fintech Training in Honduras, Fintech Training in Hungary, Fintech Training in Iceland, Fintech Training in India, Fintech Training in Indonesia, Fintech Training in Iran, Fintech Training in Iraq, Fintech Training in Ireland, Fintech Training in Israel, Fintech Training in Italy, Fintech Training in Jamaica, Fintech Training in Japan, Fintech Training in Jordan, Fintech Training in Kazakhstan, Fintech Training in Kenya, Fintech Training in Kiribati, Fintech Training in Kosovo, Fintech Training in Kuwait, Fintech Training in Kyrgyzstan, Fintech Training in Laos, Fintech Training in Latvia, Fintech Training in Lebanon, Fintech Training in Lesotho, Fintech Training in Liberia, Fintech Training in Libya, Fintech Training in Liechtenstein, Fintech Training in Lithuania, Fintech Training in Luxembourg, Fintech Training in Madagascar, Fintech Training in Malawi, Fintech Training in Malaysia, Fintech Training in Maldives, Fintech Training in Mali, Fintech Training in Malta, Fintech Training in Marshall Islands, Fintech Training in Mauritania, Fintech Training in Mauritius, Fintech Training in Mexico, Fintech Training in Micronesia, Fintech Training in Moldova, Fintech Training in Monaco, Fintech Training in Mongolia, Fintech Training in Montenegro, Fintech Training in Morocco, Fintech Training in Mozambique, Fintech Training in Myanmar, Fintech Training in Namibia, Fintech Training in Nauru, Fintech Training in Nepal, Fintech Training in Netherlands, Fintech Training in New Zealand, Fintech Training in Nicaragua, Fintech Training in Niger, Fintech Training in Nigeria, Fintech Training in North Korea, Fintech Training in North Macedonia, Fintech Training in Norway, Fintech Training in Oman, Fintech Training in Pakistan, Fintech Training in Palau, Fintech Training in Palestine, Fintech Training in Panama, Fintech Training in Papua New Guinea, Fintech Training in Paraguay, Fintech Training in Peru, Fintech Training in Philippines, Fintech Training in Poland, Fintech Training in Portugal, Fintech Training in Qatar, Fintech Training in Romania, Fintech Training in Russia, Fintech Training in Rwanda, Fintech Training in Saint Kitts and Nevis, Fintech Training in Saint Lucia, Fintech Training in Saint Vincent and the Grenadines, Fintech Training in Samoa, Fintech Training in San Marino, Fintech Training in Sao Tome and Principe, Fintech Training in Saudi Arabia, Fintech Training in Senegal, Fintech Training in Serbia, Fintech Training in Seychelles, Fintech Training in Sierra Leone, Fintech Training in Singapore, Fintech Training in Slovakia, Fintech Training in Slovenia, Fintech Training in Solomon Islands, Fintech Training in Somalia, Fintech Training in South Africa, Fintech Training in South Korea, Fintech Training in South Sudan, Fintech Training in Spain, Fintech Training in Sri Lanka, Fintech Training in Sudan, Fintech Training in Suriname, Fintech Training in Sweden, Fintech Training in Switzerland, Fintech Training in Syria, Fintech Training in Taiwan, Fintech Training in Tajikistan, Fintech Training in Tanzania, Fintech Training in Thailand, Fintech Training in Timor-Leste, Fintech Training in Togo, Fintech Training in Tonga, Fintech Training in Trinidad and Tobago, Fintech Training in Tunisia, Fintech Training in Turkey, Fintech Training in Turkmenistan, Fintech Training in Tuvalu, Fintech Training in Uganda, Fintech Training in Ukraine, Fintech Training in United Arab Emirates (UAE), Fintech Training in United Kingdom (UK), Fintech Training in United States of America (USA), Fintech Training in Uruguay, Fintech Training in Uzbekistan, Fintech Training in Vanuatu, Fintech Training in Vatican City (Holy See), Fintech Training in Venezuela, Fintech Training in Vietnam, Fintech Training in Yemen, Fintech Training in Zambia, Fintech Training in Zimbabwe

Fintech Institute International

Do you want to joint us as principal in your country? Please feel free to contact training@fintechinstitute.co.id

Fintech Institute Afghanistan, Fintech Institute Albania, Fintech Institute Algeria, Fintech Institute Andorra, Fintech Institute Angola, Fintech Institute Antigua and Barbuda, Fintech Institute Argentina, Fintech Institute Armenia, Fintech Institute Australia, Fintech Institute Austria, Fintech Institute Azerbaijan, Fintech Institute Bahamas, Fintech Institute Bahrain, Fintech Institute Bangladesh, Fintech Institute Barbados, Fintech Institute Belarus, Fintech Institute Belgium, Fintech Institute Belize, Fintech Institute Benin, Fintech Institute Bhutan, Fintech Institute Bolivia, Fintech Institute Bosnia and Herzegovina, Fintech Institute Botswana, Fintech Institute Brazil, Fintech Institute Brunei, Fintech Institute Bulgaria, Fintech Institute Burkina Faso, Fintech Institute Burundi, Fintech Institute Cabo Verde, Fintech Institute Cambodia, Fintech Institute Cameroon, Fintech Institute Canada, Fintech Institute Central African Republic (CAR), Fintech Institute Chad, Fintech Institute Chile, Fintech Institute China, Fintech Institute Colombia, Fintech Institute Comoros, Fintech Institute Congo Democratic Republic of the, Fintech Institute Congo, Fintech Institute Costa Rica, Fintech Institute Cote d’Ivoire, Fintech Institute Croatia, Fintech Institute Cuba, Fintech Institute Cyprus, Fintech Institute Czechia, Fintech Institute Denmark, Fintech Institute Djibouti, Fintech Institute Dominica, Fintech Institute Dominican Republic, Fintech Institute Ecuador, Fintech Institute Egypt, Fintech Institute El Salvador, Fintech Institute Equatorial Guinea, Fintech Institute Eritrea, Fintech Institute Estonia, Fintech Institute Eswatini, Fintech Institute Ethiopia, Fintech Institute Fiji, Fintech Institute Finland, Fintech Institute France, Fintech Institute Gabon, Fintech Institute Gambia, Fintech Institute Georgia, Fintech Institute Germany, Fintech Institute Ghana, Fintech Institute Greece, Fintech Institute Grenada, Fintech Institute Guatemala, Fintech Institute Guinea, Fintech Institute Guinea-Bissau, Fintech Institute Guyana, Fintech Institute Haiti, Fintech Institute Honduras, Fintech Institute Hungary, Fintech Institute Iceland, Fintech Institute India, Fintech Institute Indonesia, Fintech Institute Iran, Fintech Institute Iraq, Fintech Institute Ireland, Fintech Institute Israel, Fintech Institute Italy, Fintech Institute Jamaica, Fintech Institute Japan, Fintech Institute Jordan, Fintech Institute Kazakhstan, Fintech Institute Kenya, Fintech Institute Kiribati, Fintech Institute Kosovo, Fintech Institute Kuwait, Fintech Institute Kyrgyzstan, Fintech Institute Laos, Fintech Institute Latvia, Fintech Institute Lebanon, Fintech Institute Lesotho, Fintech Institute Liberia, Fintech Institute Libya, Fintech Institute Liechtenstein, Fintech Institute Lithuania, Fintech Institute Luxembourg, Fintech Institute Madagascar, Fintech Institute Malawi, Fintech Institute Malaysia, Fintech Institute Maldives, Fintech Institute Mali, Fintech Institute Malta, Fintech Institute Marshall Islands, Fintech Institute Mauritania, Fintech Institute Mauritius, Fintech Institute Mexico, Fintech Institute Micronesia, Fintech Institute Moldova, Fintech Institute Monaco, Fintech Institute Mongolia, Fintech Institute Montenegro, Fintech Institute Morocco, Fintech Institute Mozambique, Fintech Institute Myanmar, Fintech Institute Namibia, Fintech Institute Nauru, Fintech Institute Nepal, Fintech Institute Netherlands, Fintech Institute New Zealand, Fintech Institute Nicaragua, Fintech Institute Niger, Fintech Institute Nigeria, Fintech Institute North Korea, Fintech Institute North Macedonia, Fintech Institute Norway, Fintech Institute Oman, Fintech Institute Pakistan, Fintech Institute Palau, Fintech Institute Palestine, Fintech Institute Panama, Fintech Institute Papua New Guinea, Fintech Institute Paraguay, Fintech Institute Peru, Fintech Institute Philippines, Fintech Institute Poland, Fintech Institute Portugal, Fintech Institute Qatar, Fintech Institute Romania, Fintech Institute Russia, Fintech Institute Rwanda, Fintech Institute Saint Kitts and Nevis, Fintech Institute Saint Lucia, Fintech Institute Saint Vincent and the Grenadines, Fintech Institute Samoa, Fintech Institute San Marino, Fintech Institute Sao Tome and Principe, Fintech Institute Saudi Arabia, Fintech Institute Senegal, Fintech Institute Serbia, Fintech Institute Seychelles, Fintech Institute Sierra Leone, Fintech Institute Singapore, Fintech Institute Slovakia, Fintech Institute Slovenia, Fintech Institute Solomon Islands, Fintech Institute Somalia, Fintech Institute South Africa, Fintech Institute South Korea, Fintech Institute South Sudan, Fintech Institute Spain, Fintech Institute Sri Lanka, Fintech Institute Sudan, Fintech Institute Suriname, Fintech Institute Sweden, Fintech Institute Switzerland, Fintech Institute Syria, Fintech Institute Taiwan, Fintech Institute Tajikistan, Fintech Institute Tanzania, Fintech Institute Thailand, Fintech Institute Timor-Leste, Fintech Institute Togo, Fintech Institute Tonga, Fintech Institute Trinidad and Tobago, Fintech Institute Tunisia, Fintech Institute Turkey, Fintech Institute Turkmenistan, Fintech Institute Tuvalu, Fintech Institute Uganda, Fintech Institute Ukraine, Fintech Institute United Arab Emirates (UAE), Fintech Institute United Kingdom (UK), Fintech Institute United States of America (USA), Fintech Institute Uruguay, Fintech Institute Uzbekistan, Fintech Institute Vanuatu, Fintech Institute Vatican City (Holy See), Fintech Institute Venezuela, Fintech Institute Vietnam, Fintech Institute Yemen, Fintech Institute Zambia, Fintech Institute Zimbabwe

Merger dan Konsolidasi, Strategi BPR/BPRS Menghadapi Fintech

Menjamurnya layanan keuangan berbasis teknologi atau financial technology tidak hanya menjadi risiko persaingan bagi bank umum, namun juga bank perkreditan rakyat ( BPR). Baik fintech legal maupun fintech ilegal banyak bermunculan, bahkan unuk fintech ilegal, hari ini diblokir, besok pagi sudah muncul dengan nama lain. Dalam kondisi ini, BPR pun dituntut melakukan pembenahan.

Direktur Penelitian dan Pengaturan BPR Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan, dengan perkembangan teknologi yang sedemikian cepat, nasabah pun menuntut layanan yang lebih cepat dan bisa diakses kapan saja. Hal ini berdampak pula pada BPR. “BPR mau tidak mau menghadapi tantangan yang luar biasa dengan perkembangan teknologi ini,” kata Ayahandayani pada acara pelatihan wartawan OJK di Bandung.

Dia menuturkan, sebelum teknologi berkembang pesat seperti saat ini, banyak BPR yang mengandalkan hubungan baik dan cara pendekatan personal dalam menggaet nasabah. Meski cara tersebut masih relevan hingga kini, namun BPR pun harus mengandalkan teknologi. “Harus diimbangi dengan penggunaan teknologi yang memadai. Harus ada inovasi dan harus mulai sadar akan teknologi informasi,” sebut Ayahandayani. Walaupun demikian, bukan hal yang mudah bagi BPR untuk memanfaatkan teknologi di tengah kondisi modal inti yang cenderung terbatas. Ayahandayani menuturkan, sebagian besar BPR memiliki modal di bawah Rp 15 miliar.

Menurut catatan OJK, sebanyak 1.300 BPR memiliki modal inti di bawah Rp 15 miliar. Selain itu, ada 722 BPR yang memiliki modal inti di bawah Rp 6 miliar. “Kalau mau adopsi teknologi informasi, harus memikirkan beban biayanya,” ucap dia.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)  Heru Kristiyana menjelaskan, pihaknya juga mengupayakan BPR dan BPR Syariah (BPRS) untuk melakukan konsolidasi. Terlebih, tahun ini BPR harus memenuhi kewajiban modal minimum Rp3 miliar.

“BPR juga kita usahakan seperti itu. Mereka [BPR] punya tahapan untuk modalnya menjadi Rp6 miliar. Kalau sudah seperti itu, para pemilik sudah mulai kita kumpulin ini tahun depan mampu tidak memenuhi modal minimal Rp6 miliar,” tutur Heru usai acara penandatanganan MoU antara OJK-Kemendagri-PPATK-KLHK-MK di Jakarta.

Berdasarkan peraturan OJK No. 5/POJK.03/2015 tentang kewajiban modal minimum BPR disebutkan bahwa pada 2019, bank harus memenuhi ketentuan modal minimal Rp 3 miliar. Sedangkan pada 2024, modal minimal BPR sebesar Rp 6 miliar.

Heru melanjutkan, bila BPR merasa berat dengan peraturan itu lebih baik BPR mencari partner. Hingga saat ini ada sebanyak 1.700 BPR dan BPR Syariah (BPRS) di dalam negeri. Ketimbang harus bertahan dengan modal di bawah Rp3 miliar atau Rp6 miliar, menurut Heru, lebih baik bersinergi dengan partner. 

“Tahap pertama yang kita ingin lakukan adalah BPR kan kadang-kadang satu pemilik dia punya banyak. Ketimbang dia punya banyak di mana-mana, gabung saja kan lebih bagus. lebih kuat.

[pemanis]

Fintech Indonesia Serbu Indonesia

Indonesia menjadi sasaran empuk bagi perusahaan financia tecnofogy (Fintec) dari China. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan sebanyak 227 perusahaan pinjam-meminjam uang berbasis teknologi (Fintech peer-to-peer (p2p) lending ) dengan status ilegal, di dominasi perusahaan dari Negeri Tirai Bambu.

Berdasarkan hasil screening dah satuan tugas waspada investasi OJK terhadap perusahaan Fintech ilegal, ternyata sangat mudah untuk diakses. Cukup klik mesin pencarian Google atau buka pada aplikasi Play Store dan App Store berbagai macam platform, di antaranya Cinta Rupiah dan Duit Pinjaman yang dioperasikan oleh developer Li Chen asal China. Keberadaan Fintech tersebut melanggar peraturan OJK No 77/POJK.01/-2016 yang mengatur Fintech p2p lending karena tidak terdaftar.

Mengapa Indonesia menjadi lahan subur bagi perusahaan Fintech asal China? Salah satunya dipicu oleh pengetatan kebijakan di Negeri Panda itu. Dari hasil pantauan OJK ditemukan sejumlah developer mengoperasikan dua hingga tiga platform dalam bahasa Indonesia. Sayangnya, pihak OJK tidak bisa menelisik lebih jauh profil penyelenggara Fintech ilegal tersebut, namun dapat diduga terdapat ratusan ribu nasabah atau member setiap aplikasi dari indikator yang mengunduh aplikasi yang ditawarkan secara terbuka.

Keberadaan Fintech ilegal itu berdampak negatif, di antaranya dapat digunakan untuk pendanaan terorisme dan tindak pidana pencucian uang serta data dan informasi nasabah berpotensi disalah gunakan. Celakanya, tanpa perlindungan terhadap nasabah dan negara tidak bisa menarik pajak karena perusahaan abal-abaL.

Menyikapi pertumbuhan perusahaan Fintech ilegal yang bak jamur di musim hujan, pihak OJK telah dua kali melayangkan surat pemanggilan, namun dari 227 perusahaan yang belum terdaftar hanya 69 perusahaan yang diketahui kontaknya. Dan 22 perusahaan yang memenuhi surat panggilan alias bertemu OJK. Dari 22 perusahaan yang hadir diminta untuk segera mendaftarkan diri. Saat ini OJK baru menerbitkan izin untuk 64 perusahaan. Guna menertibkan perusahaan Fintech ilegal itu, pihak OJK telah berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika serta meminta Google memblokir aplikasinya.

Keberadaan perusahaan Fintech ilegal tidak saja berpotensi merugikan nasabah, tetapi juga telah mengancam perusahaan yang terdaftar pada OJK dalam artian dapat merusak kepercayaan masyarakat. Karena itu, Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) sangat

bersyukur setelah OJK menyalakan lampu hijau untuk penerbitan aturan atau code ofconduct bagi perusahaan Fintec? yang beroperasi di Indonesia. Nantinya, aturan tersebut menjadi panduan dalam menjalankan bisnis Fintech yang mengatur di antaranya tata cara standar minimal penagihan.

Selama ini, pihak Aftech mengakui belum ada mekanisme pola yang sama terkait penagihan utang. Contoh kasus adalah penagihan utang oleh pihak Rupiah Plus dengan mekanisme mempermalukan nasabah. Dengan adanya codeofconduct diharapkan dapat meminimalisasi cara penagihan yang tidak sesuai prosedur.

Selain itu, adanya aturan main yang jelas mengatur perusahaan Fintech yang terdaftar pada OJK maka Aftech pun berwenang meberi sanksi bagi yang melanggar aturan yang telah disepakati bersarna.

Pihak OJK mencatat pembiayaan dari perusahaan Fintech p2p lending telah menembus hampir Rp7 triliun hingga Juni 2018.

Besaran pembiayaan terusr melesat. tengok saja dana yang disalurkan pada Desember tahun lalu baru sebesar Rp 2,56 triliun, hanya dalam waktu enam bulan telah bertumbuh sekitar 173,4% pada Juni lalu. Meningkatnya pembiayaan itu bukan berarti hanya dipicu perusahaan Fintec? yang bertambah terus. melainkan juga menunjukkan bahwa masyarakat mulai mengerti dan paham akan keberadaan perusahaan pembiayaan yang berbasis teknologi. Karena itu, otoritas keuangan di negeri ini wajib membentengi masyarakat dari perusahaan Fintech abal-abal. Sebaliknya, masyarakat harus menahan diri dalam berhubungan dengan perusahaan Fintech yang tidak terdaftar pada OJK.

Sumber Berita : Sindo

Fintech Institute International

Fintech Institute Afghanistan, Fintech Institute Albania, Fintech Institute Algeria, Fintech Institute Andorra, Fintech Institute Angola, Fintech Institute Antigua and Barbuda, Fintech Institute Argentina, Fintech Institute Armenia, Fintech Institute Australia, Fintech Institute Austria, Fintech Institute Azerbaijan, Fintech Institute Bahamas, Fintech Institute Bahrain, Fintech Institute Bangladesh, Fintech Institute Barbados, Fintech Institute Belarus, Fintech Institute Belgium, Fintech Institute Belize, Fintech Institute Benin, Fintech Institute Bhutan, Fintech Institute Bolivia, Fintech Institute Bosnia and Herzegovina, Fintech Institute Botswana, Fintech Institute Brazil, Fintech Institute Brunei, Fintech Institute Bulgaria, Fintech Institute Burkina Faso, Fintech Institute Burundi, Fintech Institute Cabo Verde, Fintech Institute Cambodia, Fintech Institute Cameroon, Fintech Institute Canada, Fintech Institute Central African Republic (CAR), Fintech Institute Chad, Fintech Institute Chile, Fintech Institute China, Fintech Institute Colombia, Fintech Institute Comoros, Fintech Institute Congo Democratic Republic of the, Fintech Institute Congo, Fintech Institute Costa Rica, Fintech Institute Cote d’Ivoire, Fintech Institute Croatia, Fintech Institute Cuba, Fintech Institute Cyprus, Fintech Institute Czechia, Fintech Institute Denmark, Fintech Institute Djibouti, Fintech Institute Dominica, Fintech Institute Dominican Republic, Fintech Institute Ecuador, Fintech Institute Egypt, Fintech Institute El Salvador, Fintech Institute Equatorial Guinea, Fintech Institute Eritrea, Fintech Institute Estonia, Fintech Institute Eswatini, Fintech Institute Ethiopia, Fintech Institute Fiji, Fintech Institute Finland, Fintech Institute France, Fintech Institute Gabon, Fintech Institute Gambia, Fintech Institute Georgia, Fintech Institute Germany, Fintech Institute Ghana, Fintech Institute Greece, Fintech Institute Grenada, Fintech Institute Guatemala, Fintech Institute Guinea, Fintech Institute Guinea-Bissau, Fintech Institute Guyana, Fintech Institute Haiti, Fintech Institute Honduras, Fintech Institute Hungary, Fintech Institute Iceland, Fintech Institute India, Fintech Institute Indonesia, Fintech Institute Iran, Fintech Institute Iraq, Fintech Institute Ireland, Fintech Institute Israel, Fintech Institute Italy, Fintech Institute Jamaica, Fintech Institute Japan, Fintech Institute Jordan, Fintech Institute Kazakhstan, Fintech Institute Kenya, Fintech Institute Kiribati, Fintech Institute Kosovo, Fintech Institute Kuwait, Fintech Institute Kyrgyzstan, Fintech Institute Laos, Fintech Institute Latvia, Fintech Institute Lebanon, Fintech Institute Lesotho, Fintech Institute Liberia, Fintech Institute Libya, Fintech Institute Liechtenstein, Fintech Institute Lithuania, Fintech Institute Luxembourg, Fintech Institute Madagascar, Fintech Institute Malawi, Fintech Institute Malaysia, Fintech Institute Maldives, Fintech Institute Mali, Fintech Institute Malta, Fintech Institute Marshall Islands, Fintech Institute Mauritania, Fintech Institute Mauritius, Fintech Institute Mexico, Fintech Institute Micronesia, Fintech Institute Moldova, Fintech Institute Monaco, Fintech Institute Mongolia, Fintech Institute Montenegro, Fintech Institute Morocco, Fintech Institute Mozambique, Fintech Institute Myanmar, Fintech Institute Namibia, Fintech Institute Nauru, Fintech Institute Nepal, Fintech Institute Netherlands, Fintech Institute New Zealand, Fintech Institute Nicaragua, Fintech Institute Niger, Fintech Institute Nigeria, Fintech Institute North Korea, Fintech Institute North Macedonia, Fintech Institute Norway, Fintech Institute Oman, Fintech Institute Pakistan, Fintech Institute Palau, Fintech Institute Palestine, Fintech Institute Panama, Fintech Institute Papua New Guinea, Fintech Institute Paraguay, Fintech Institute Peru, Fintech Institute Philippines, Fintech Institute Poland, Fintech Institute Portugal, Fintech Institute Qatar, Fintech Institute Romania, Fintech Institute Russia, Fintech Institute Rwanda, Fintech Institute Saint Kitts and Nevis, Fintech Institute Saint Lucia, Fintech Institute Saint Vincent and the Grenadines, Fintech Institute Samoa, Fintech Institute San Marino, Fintech Institute Sao Tome and Principe, Fintech Institute Saudi Arabia, Fintech Institute Senegal, Fintech Institute Serbia, Fintech Institute Seychelles, Fintech Institute Sierra Leone, Fintech Institute Singapore, Fintech Institute Slovakia, Fintech Institute Slovenia, Fintech Institute Solomon Islands, Fintech Institute Somalia, Fintech Institute South Africa, Fintech Institute South Korea, Fintech Institute South Sudan, Fintech Institute Spain, Fintech Institute Sri Lanka, Fintech Institute Sudan, Fintech Institute Suriname, Fintech Institute Sweden, Fintech Institute Switzerland, Fintech Institute Syria, Fintech Institute Taiwan, Fintech Institute Tajikistan, Fintech Institute Tanzania, Fintech Institute Thailand, Fintech Institute Timor-Leste, Fintech Institute Togo, Fintech Institute Tonga, Fintech Institute Trinidad and Tobago, Fintech Institute Tunisia, Fintech Institute Turkey, Fintech Institute Turkmenistan, Fintech Institute Tuvalu, Fintech Institute Uganda, Fintech Institute Ukraine, Fintech Institute United Arab Emirates (UAE), Fintech Institute United Kingdom (UK), Fintech Institute United States of America (USA), Fintech Institute Uruguay, Fintech Institute Uzbekistan, Fintech Institute Vanuatu, Fintech Institute Vatican City (Holy See), Fintech Institute Venezuela, Fintech Institute Vietnam, Fintech Institute Yemen, Fintech Institute Zambia, Fintech Institute Zimbabwe

Do you want to become Fintech Institute Partner in Your Country? Please contact partner@fintechinstitute.co.id

International Fintech Consultant

Fintech Consultant Singapore, Fintech Consultant Jakarta, Fintech Consultant Hongkong, Fintech Consultant Dubai, Fintech Consultant New York, Fintech Consultant Tokyo, Fintech Consultant Swiss, Fintech Consultant London, Fintech Consultant India

Konsultan Fintech Jakarta, Konsultan Fintech Yogyakarta, Konsultan Fintech Semarang, Konsultan Fintech Surabaya, Konsultan Fintech Medan, Konsultan Fintech Makassar, Konsultan Fintech Balikpapan, Konsultan Fintech Palembang

For Fintech consultant please feel free to contact consultant@fintechinstitute.co.id

947 Fintech Beri Pinjaman, 140 Ilegal Telah Ditutup

Pertumbuhan perusahaan Fintech sangat pesat di Indonesia. irektur Pengaturan, Perizinan dan Pengawasan Financial Technology OJK, Hendrikus Passagi menyampaikan bahwa saat ini ada 947 fintech yang beroperasi di Indonesia. Dia juga mengatakan bahwa kinerja dari illegal lending fintech, berada dalam pengawasan dari OJK dengan tiga tugas yang dilakukan, yaitu menjaga data agar tidak disalahgunakan dan kepentingan nasional dijaga, dan mencegah illegal lending digunakan untuk pendanaan terorisme, pencucian uang dan menggangu sistem keuangan.

Pihaknya juga mengatakan saat ini ada 113 penyelenggara fintech lending yang terdaftar/berizin di OJK. Dibandingkan dengan jumlah fintech ilegal sebanyak 947 penyelenggara fintech lending ilegal yang ditutup oleh Satgas Waspada Investasi (SWI). Secara rutin OJK dan SWI menelusuri penyelanggara fintech lending ilegal.

“Tapi saat ini belum ada UU perlindungan data pribadi, jadi setiap melakukan peminjaman dari fintech lending illegal saya pastikan semua data pribadinya disalin dan digunakan. Bayangkan kalau berasal dari luar negeri artinya hampir semua data pribadi disalin di luar negeri, ” ungkapnya.

Selain itu, pihak OJK telah mewajibkan fintech Lending yang terdaftar dan memiliki izin di OJK hanya dapat mengakses kamera, mircrofon dan occasion. Untuk akses yang lainnya tidak diperbolehkan, sementara untuk yang illegal dapat dipastikan semua nomer, dan data yang ada di pada handphone dapat diambil.

“Sementara untuk fintech landing perbulan februari kami sudah mengajukan instruksi hanya boleh mengakses camera, mikrofon dan ccasion diluar itu ya harus dimusnahkan agar tidak berpeluang menjual data, ” kata Hendrikus Passagi.

Dalam rangka untuk melindungi konsumen, satuan Tugas Penanganan Dugaan Tindakan Melawan Hukum di Bidang Penghimpunan Dana Masyarakat dan Pengelolaan Investasi (Satgas Waspada Investasi) kembali menemukan 140 entitas yang melakukan kegiatan usaha peer to peer lending, tapi tidak terdaftar atau memiliki izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Dengan demikian, sampai saat ini secara total jumlah pinjaman online ilegal tidak berizin yang ditemukan Satgas Waspada Investasi sebanyak 1.087 entitas di mana pada 2018 sebanyak 404 entitas, sedangkan pada 2019 sebanyak 683 entitas.

BRI Luncurkan Aplikasi Kartu Kredit di Ponsel

Gempuran perusahaan fintech menuntut bank konvensional untuk terus berinovasi. Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) meluncurkan aplikasi kredit di ponsel pintar (smartphone) bernama BRI Credit Card Mobile. Aplikasi ini dirilis untuk menggaet milenial yang jadi pangsa pasar seksi bagi BRI. 

Direktur Konsumer BRI Handayani, mengatakan bahwa 45% pemegang kartu kredit BRI berada di bawah usia 35 tahun. Target milenial juga menyesuaikan di mana pada tahun 2020 populasi milenial Indonesia menjadi segmen tertebal di usia produktif.

“Jadi memang cocok basisnya untuk milenial. Ini salah satu usaha bank BRI menyesuaikan segmen milenial. Komitmen kita, BRI akan membuat kartu kredit berada di life cycle milenial. Menjaga milenial sampai di usia yang senior tetap memakai produk BRI,” ucap Handayani di Jakarta, Selasa (18/6/2019).

Executive Vice President Credit Card BRI Wibawa Prasetyawan, mengatakan beberapa fitur yang diunggulkan dalam BRI Credit Card Mobile dilakukan berdasarkan survei pelanggannya.

Iwan juga mengatakan bahwa jeda peluncuran aplikasi BRI Credit Card Mobile di App Store sampai grand launching hari ini untuk menguji sistem dalam aplikasi tersebut.

“Kita lakukan secara terbatas untuk menguji kehandalan sistem sehingga baru kita grand launching. Saat ini sudah ada sekitar 45 ribu downloader. Semoga dengan (grand launching) ini bisa naik lagi,” ucap Iwan.