Revolusi industri 4.0 sudah di depan mata. Mau tidak mau, banyak sektor harus menyesuaikan dengan kondisi kemajuan teknologi tersebut, termasuk perbankan. Group Head Digital Banking Mandiri Sunarto Xie, menyebutkan hal serupa terjadi dialami oleh salah satu bank pelat merah tersebut.

Dia menjelaskan, di era digitalisasi atau serba digital ini nasabah cenderung memilih untuk melakukan transaksi melalui digital channels. Hal tersebut melatarbelakangi perusahaan untuk terus berpacu dengan kemajuan teknologi digital sektor keuangan.

“Dari sejak tahun 2011 orang yang melakukan transaksi di e-channel di Indonesia tumbuh dari 5 persen ke 36 persen, itu 6 kali lipat,” kata Sunarto di Mandiri University Semarang, Jawa Tengah.

Sementara itu, di negara tetangga seperti Singapura, transaksi melalui digital channels sudah sampai di angka 94 persen. Sunarto menyebutkan, Bank Mandiri sejak tahun 2014 bahkan telah mendirikan direktorat khusus yang menangani urusan digital. Selain itu, selama beberapa tahun terakhir ini perusahaan sangat loyal mengalokasikan anggaran dengan porsi besar untuk investasi di sisi IT.

Di Bank Mandiri sendiri, hingga tahun 2017 tercatat nasabah pengguna layanan mobile banking mencapai 37 persen, internet banking 17 persen, dan pengguna mesin ATM 40 persen. Sementara itu, nasabah yang mengunjungi kantor cabang hanya tinggal sisanya yaitu sekitar 6 persen saja. Dia menceritakan, saat memasuki era revolusi industri 2.0 saat itu nasabah yang mengunjungi kantor cabang mulai berkurang karena beberapa aktivitas seperti tarik tunai, transfer dapat dilakukan oleh sebuah mesin bernama Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

Memasuki era industri 3.0, pengguna mesin ATM pun menurun sebab banyak aktivitas perbankan saat ini dapat dilakukan atau diselesaikan hanya dengan sebuah aplikasi mobile banking. Padahal di tahun 2013 pengguna ATM mencapai 60 persen. “Orang melakukan transaki di ATM semakin sedikit, sudah shifting ke m-banking,” ujarnya.

Sunarto menyebutkan, dalam waktu lima tahun ke depan ada kemungkinan mesin ATM sudah tidak ada lagi sebab semua fungsinya sudah diambil alih oleh aplikasi dan bentuk digitalisasi lainnya yang lebih modern. “Dulu mau transaksi harus ke kantor cabang, orang mau berbank datang ke cabang, kita harus visit ke bank untuk melakukan transaksi perbankan. Kita pikir bagaimana invest di kantor cabang. (Kemudian) kita perbanyak mesin ATM. 5 tahun lagi kita barangkali sudah tidak melihat (aktivitas di mesin ATM),” ujarnya.

Dia menyebutkan, pertumbuhan jumlah kantor cabang akan berbanding terbalik dengan pertumbuhan digital. “Karena ketika digital tumbuh, fisik semakin kecil,” ujarnya. Sementara itu, memasuki era revolusi industri 4.0 nasabah perbankan mulai memasuki pola baru. Yaitu banking everywhere dimana aktivitas perbankan sudah bisa dilakukan di platform non bank atau yang tidak berkaitan dengan bank. “Mulai visit ke yang bukan perbankan yaitu aplikasi. Aplikasi kita download dan kita pakai sendiri,” ujarnya.

Dia menegaskan, saat ini bank akan dituntut untuk dapat memfasilitasi nasabah dalam melakukan transaksi atau layanan perbanakn di luar channel milik perbankan seperti media sosial, dan lain sebagainya. Salah satu contoh terbaru, dia mengungkapkan saat ini top up atau isi ulang uang elektronik (e-money) mandiri sejak dua bulan lalu sudah dapat dilakukan di salah satu market place besar di Indonesia. Tidak lagi hanya dapat dilakuakn di merchant, ATM atau aplikasi m-banking.

“Orang ke depannya tidak mmbutuhkan bank tapi di membutuhkan banking activities (aktivitas perbankan), sehingga tranformasi digital di sektor perbankan merupakan sbeuah keharusan. Saya butuh perbankan? butuh. Tapi saya tidak butuh fisik bank nya,” ujarnya. Hal ini sesuai dengan hasil survey yang dilakukan Brett King bertajuk author of bank 4.0 menunjukkan bahwa saat ini “banking is no longer somewhere you go, its something you do. Banking everywhere, never at bank”. Sehingga disebutkan bahwa bank yang mengadopsi kemajuan digital akan tumbuh 18 persen pada tahun 2020. Sementara itu, bank yang tidak mengadopsi digitalisasi akan anjlok 18 persen di tahun yang sama.

Bank harus pintar memposisikan dirinya di era revolusi industri 4.0 ini. Bank harus sudah mulai memikirkan bagaimana caranyae mendesain suatu aplikasi untuk memenuhi kebutuhan nasabah dengan pola pikir start up. Selain itu, bank juga harus pintar menjalin kolaborasi dengan perusahaan fintech yang dapat ikut mendongkrak bisnis perusahaan. “Tak hanya bank Mandiri, saya rasa semua bank saat ini arahnya kesitu,” tutupnya.

Untuk mengikuti workshop Revolusi Industri Perbankan 4.0 silahkan hubungi training@fintechinstitute.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *